ANTARA, KAMU, ROKOK, DAN CORONA

"cintai dirimu, hentikan asapnya"

Hola Pixies! Kalian tau gak sih bahwa seseorang yang mengidap penyakit tidak menular (PTM) punya resiko lebih besar terjangkit virus Covid-19. Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, merokok merupakan salah satu faktor resiko PTM penyebab penyakit saluran pernafasan hingga penyakit paru kronis. Meski nikmat, saat ini rokok menjadi salah satu masalah kesehatan serius dan juga menjadikan perokok lebih rentan terpapar virus.

Antara, Kamu, Rokok, Dan Corona

Antara, Kamu, Rokok, dan Corona

Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi


Mengapa cukai rokok harus naik saat pandemi?

Pada saat streaming siaran Ruang Publik Berita KBR dengan tema "Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi" pada tanggal 29 Juli 2020 lalu, yang membahas tentang cukai rokok yang harus naik, aku merasa harus ikut mendengarkan. Buat kalian yang ketinggalan bisa juga saksikan kembali di channel youtube Berita KBR dan kalian juga bisa kunjungi website KBR.ID(click) untuk banyak pilihan berita lainnya.

Ngomong-ngomong, jujur sih aku mendukung naiknya harga cukai rokok di saat pandemi ini. Karena dengan naiknya harga rokok, dimungkinkan seorang perokok akan berhenti dan mengalokasikan uang yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan penting lain. Dan juga mungkin resiko pengidap Covid-19 akibat rokok akan menurun.

Menurut Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Prof. Hasbullah Thabrany. Halusnya virus corona ini berukuran 1:600 ukuran rambut kita. Virus ini suka berdiam di paru-paru, menyumbat salurannya yang menyebabkan salah satu gejala sesak nafas. Rokok ini memudahkan partikel virus ke dalam tubuh. Meski telah mengetahui bahwa risiko PTM akibat rokok ini tinggi, permintaan atas rokok justru meningkat selama pandemi ini.

Grafik kenaikan cukai rokok
Grafik Kenaikan Cukai Rokok

Menurut beliau cara paling efektif untuk mengendalikan penggunaan tembakau ini adalah dengan menaikkan harga cukai rokok. Per-tanggal 01 Januari 2020 lalu, cukai rokok sudah naik sebesar 23%. Menjadikan harga rata-rata eceran rokok pun naik sebesar 35%. Prof. Hasbullah pun memaparkan bahwa hal ini belum dapat menekan tingkat konsumsi rokok di Indonesia. Apabila harga rokok meningkat misal, dari Rp 25.000 menjadi Rp 70.000 per-bungkus, hal ini sangat memungkinkan tingkat permintaan/konsumsi rokok akan menurun. Karena akibatnya hanya kalangan terbatas yang akan membeli dan mengkonsumsi rokok. Berarti hal ini mengharuskan cukai rokok naik sebesar 57% dari nilai harga saat ini.

Undang-Undang cukai menyebutkan bahwa cukai merupakan alat untuk mengendalikan konsumsi, khususnya konsumsi barang-barang yang membahayakan kesehatan maupun lingkungan. Disebutkan juga bahwa cukai rokok bukanlah kontribusi dari industri rokok. Melainkan denda pemakaian/konsumsi bagi para perokok.

Aku jadi terbayang kalau memang cukai untuk rokok ini naik. Tingkat penderita PTM akibat rokok pasti akan menurun dan memungkin tingkat penyebaran virus ini di udara akan menurun. Dimana saat ini resiko perokok terpapar Covid-19 adalah 14x lebih besar. Dan yang lebih menakutkan adalah perokok dapat menularkan kepada orang disekitarnya. Dan juga efek langsung dari kenaikan cukai akan dirasakan apabila konsumsi rokok menurun.

Menurut narasumber kedua yaitu, DR. Renny Nurhasana, Dosen dan Peneliti Sekolah Kajian Strategic dan Global UI. Mengacu pada kajian KEMENKEU 2020, simplifikasi harga cukai memang diharuskan. Untuk mendapatkan efek sempitnya variasi harga di masyarakat dan juga meningkatnya pendapatan pemerintah akan cukai rokok.

Pentingnya menaikkan cukai rokok saat pandemi ini, adalah untuk menurunkan resiko paparan virus dan juga meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat. Mengacu pada 7 bantuan negara pada masa pandemi ini, bantuan berbentuk tunai kebanyakan tidak dipakai untuk hal yang relevan. Menurut DR. Renny persentase rokok dari penggunaan dana BLT Kartu Indonesia Pintar mempunyai tingkat 9 persentase poin lebih tinggi bahkan sebelum pandemi. Lalu untuk bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) selama pandemi mempunyai tingkat 3.5 batang per kapita per minggu lebih tinggi.

Langkah nyata yang harus di tempuh terkait bansos adalah pemerintah harus mampu melakukan review sistem penyaluran dan penggunaan bantuan sosial. Lalu terkait tingkat konsumsi rokok, pemerintah harus memiliki nyali untuk me-denormalisasi penggunaan rokok pada masyarakat. Dan diharapkan untuk pemerintah menghimbau pengurangan konsumsi rokok pada rumah tangga penerima bansos.

Ekonomi Rendah Asap Rokok Tak Berhenti


Banyak sekali masalah dalam keluarga timbul dari rokok. Aku yakin banget bukan hanya keluargaku yang pernah merasakan permasalahan akibat rokok ini. Terkadang hal ini bisa berubah dari cekcok biasa yang berlanjut hingga menjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Gak hanya sang istri yang terkena, terkadang anak yang masih kecil pun ikut terkena imbasnya. 

Bayangkan saja nih guys, harga rokok yang dulu biasa aku beli sekarang ini harganya hanya sekitar Rp 23.000 untuk satu bungkus isi 16 batang. Satu orang perokok di Indonesia bisa menghabiskan lebih dari satu bungkus per-hari. Mirisnya di keadaan pandemi ini, perokok aktif bukannya turun malah cenderung naik. Padahal keadaan ekonomi sebagian perokok ini terbilang kurang.

Bukan hanya itu perokok anak/remaja selama pandemi juga cenderung meningkat tajam. Dikarenakan kurangnya kegiatan yang berarti selama pandemi, juga kurangnya pengawasan orang tua. Dan ditambah lagi gencarnya promosi iklan rokok di banyak daerah dengan pemakaian billboard yang sang besar dan menarik. Promosi diskon rokok murah selama pandemi, munculnya harga rokok yang beragam menjadi andil terbesar.

Contoh kasus ekonomi rendah dan rokok
Contoh Kasus Ekonomi Rendah

Berbicara tentang hal ini ada sebuah contoh yang terjadi di masyarakat gak jauh dari tempat tinggalku. Sebut saja si A merupakan seorang tukang ojek pangkalan. Setiap hari ia hanya bisa menghasilkan uang setidaknya sebanyak Rp 30.000 - Rp 50.000 itupun dalam keadaan normal. Rokok yang biasa ia beli harganya Rp 20.000 - Rp 25.000. Rokok ini tidak di beli langsung sebungkus gitu lho, tapi dia bisa beli eceran atau per-batang. Kalau gak salah per-tiga batang rokok harganya Rp 5.000. Rasanya kesel banget di negara ini rokok itu dapat di ecer batangan, kebayang dong besarnya resiko penyebaran virus setiap harinya. Ada beberapa tangan dahulu yang memegang batangan rokok tersebut sebelum dihisap.

Jadi, si A ini bisa tiga kali bolak-balik pergi membeli rokok batangan tadi. Jadi kalau di kalkulasi total sehari dia bisa menghabiskan Rp 15.000 hanya untuk rokok. Terbayang banget sisa uang yang didapat sangat kecil dan tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Padahal di rumah, ia memiliki seorang istri dan empat orang anak. Terkadang dia tidak menghasilkan uang sama sekali dari hasil menarik ojek setiap hari. Pasti kalian sudah bisa memahami bagaimana mirisnya keadaan keluarga ini yang tercekik akibat dari banyaknya uang yang ia keluarkan untuk rokok.

Kesimpulan


Anyway, guys. So far, aku sangat mendukung akan kenaikan cukai rokok selama pandemi ini. Bukan karena aku tidak suka sama perokok, sejujurnya aku mantan perokok berat. Selama kerja di Jakarta saat menjadi translator bahasa inggris. Karena kerjaan yang menumpuk juga tugas kuliah yang tak kunjung selesai. Juga dengan banyaknya beban hidup yang harus aku tanggung di usia yang sangat muda dan rapuh di kala itu.

Aku mendukung kenaikan ini karena aku sadar akan kesehatan diriku, anakku, keluargaku, dan semua orang di sekitarku. Harapan aku sih pemerintah dapat meralisasikan program kenaikan cukai guna menghentikan penyebaran virus Covid-19 dari para pasien PTM akibat rokok. Juga aku sangat berharap kenaikan cukai ini dapat membantu pemerintah untuk menaikkan tingkat kesejahteraan ekonomi dan gizi masyarakat Indonesia.

Tapi hal ini juga tidak dapat berjalan tanpa dukungan dan peran serta masyarakat untuk menghentikan konsumsi rokok dan juga penyebaran virus corona. Kita bisa mulai dengan hal kecil seperti menghentikan kebiasaan merokok dari 10 menjadi 5 dan seterusnya hingga mantap berhenti. Perlu diingat bahwa kita berhenti untuk kita dan kelangsungan hidup manusia lainnya.

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syarat bisa anda lihat di sini Syarat Lomba Blog serial #putusinaja(click).

So Guys, Stop Smoking! Love Yourself and Others!

3 Comments

  1. Bagus banget kak tulisanmu, menginspirasi dan bisa membuat orang berpikir lbh maju.

    ReplyDelete
  2. Suka kata-kata, "cintai dirimu, hentikan asapnya".

    ReplyDelete
  3. akupun setuju mba, ini saat yang tepat untuk menaikkan cukai rokok yaa..

    ReplyDelete

Please kindly share your thoughts down below. Sorry for the inconvenient, but active link will be remove.
XoXo Bella