BANGUN KOLABORASI PENTAHELIX LAWAN KUSTA

Hola Pixies! Masih ingatkah dengan apa itu kusta? Masih ingatkah dengan bagaimana para penyintas menghadapi stigma dan diskriminasi di masyarakat? Berat ya perjuangan mereka ini untuk bisa diterima di masyarakat. Untuk itu sebagai masyarakat yang baik kita harus turut andil dalam menciptakan ruang yang aman. Dilakukan sendiri pasti sulit, untuk itu kita harus Bangun Kolaborasi Pentahelix Lawan Kusta. Dibaca sampe beres ya!

Bangun Kolaborasi Pentahelix Lawan Kusta

Pada hari Selasa, 12 April 2022 lalu, Ruang Publik KBR bersama NLR Indonesia kembali mengadakan awareness tentang kusta. Yang mana tema kali ini adalah membangun Kolaborasi Pentahelix untuk mengahpuskan seluruh stigma dan diskriminasi pada penyintas kusta.

Kolaborasi Pentahelix sendiri adalah kolaborasi antar sector di masyarakat yang turut membantu menyelesaikan suatu permasalahan yang ada. Dari mulai tingkat RT, RW, Desa, hingga tertinggi lainnya harus turut tangan untuk memberantas kusta. Hal ini dimaksudkan untuk mensosialisasi dan memutuskan mata rantai penyebaran kusta.

Pada hakikatnya, Kusta sendiri merupakan penyakit yang menyerang pada syaraf kulit yang disebabkan oleh mikrobaterium neprhae. Ciri yang didapat adalah adanya bercak putih kemerahan pada kulit dan juga mati rasa. Juga ciri fisik dari penderita pun dapat berubah, seperti hilangnya rambut pada alis.

kolaborasi pentahelix lawan kusta

Pada kesempatan kali ini hadir dua narasumber dari sektor yang berbeda. Yang pertama ada Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, Sp.KK, M.Kes, Dipl-STD HIV FINSDV - Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI). Beliau menjelaskan bahwa kusta ini merupakan penyakit menular yang tidak menular.

Kusta dapat ditularkan kepada orang lain apabila orang tersebut mengalami kontak erat dengan pasien yang belum terobati. Adapun jarak waktu untuk tertular adalah 5tahun. Tetapi hal ini tentu akan menjadi keadaan berbeda apabila pasien sudah diobati.”

Kunci dari penyembuhan kusta ini adalah support system dari keluarga dan lingkungan sekitar. Karena bisa dibayangkan kesulitan para pasien setiap harinya. Mereka harus minum obat secara rutin selama 6-9bulan. Lalu apabila imun pasien kuat, kusta ini dapat sembuh dalam waktu 2tahun. Untuk obat kusta sendiri dapat didapatkan di puskesmas terdekat. Dan tidak dipungut biaya sepesrpun alias gratis.

Lalu pada acara ini juga hadir R Wisnu Saputra, S.H., S.I.Kom - Jurnalis/Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kab. Bandung. Ia merupakan seorang jurnalis yang memberikan pemaparan tentang pentingnya literasi dan edukasi. Dipaparkan juga bahwa sosialisasi kusta harus lebih sering dilakukan di kalangan awam. Karena kebanyakan kurang mengerti tentang kusta ini, sehingga toimbul diskriminasi dan stigma.

Ia menyarankan agar kita sebagai masyarakat yang baik untuk lebih cermat mencari tahu berita dari sumber yang sudah terverifikasi Dewan Pers. karena setiap sumber berita dari platform yang terverifikasi dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dengan lebih sering mencari tahu akan memudahkan kita memberantas isu ini. Dan juga dapat memudahkan kita untuk meraih sektor lain seperti akademisi, pemerintah, pelaku bisnis, komunitas hingga media. Sehingga dapat terciptanya kolaborasi pentahelix yang harmonis dan sejalan.

Dengan kolaborasi selaras lintas sektor ini, kita dapat menciptakan ruang aman bagi pasien. Dimana hal ini diharapkan dapat mengurangi diskriminasi dan stigma di masyarakat. Kolaborasi sejenis ini telah sukses diterapkan oleh Bupati Pasuruan. Yang mana beliau dibantu sektor lain yang memunculkan program Surya Mas Jelita.

Untuk itu, mari kita turut turun tangan untuk menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi para penyintas kusta. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Sekian cerita kali ini. Buhbye Pixies!

Petite Pixie

0 Comments

Please kindly share your thoughts down below. Sorry for the inconvenient, but active link will be remove.
XoXo Bella