MELAWAN STIGMA DISABILITAS UNTUK DUNIA YANG SETARA

Hola Pixies! Di zaman yang serba modern seperti ini kita selalu lekat dekat kata setara. Tapi sayangnya kata tersebut belum dapat dirasakan oleh para kaum disabilitas. Mereka ini nyatanya masih terdiskriminasi. Hal ini disebabkan oleh pemahaman yang kurang tepat. Untuk itu cerita kali ini mari Melawan Stigma Disabilitas Untuk Dunia Yang Setara. Dibaca sampai akhir ya!

MELAWAN STIGMA DISABILITAS UNTUK DUNIA YANG SETARA

Pada hari Rabu, 30 Maret 2022 lalu, Ruang Publik KBR bersama NLR Indonesia, menggandeng masyarakat agar lebih sadar dengan kaum disabilitas. Kampanye ini merupakan salah satu upaya mendukung kesadaran dan juga merupakan sebuah upaya untuk melawan stigma terhadap semua ragam disabilitas. Kampanye ini sengaja diangkat bertepatan dengan peringatan hari down syndrome sedunia yang dirayakan setiap 21 Maret.

Ruang Publik KBR

Jenis disabilitas sebenarnya ada sangat banyak. Ada yang disebabkan oleh kusta ataupun kelainan genetik lainnya. Tapi salah satu jenis disabilitas yang sangat kita kenal adalah down syndrome. Penyandang down syndrome merupakan ragam disabilitas intelektual. Yang mana sangat lekat dengan stigma buruk dan keliru karena dianggap sebagai orang dengan gangguan kejiwaan.

Dalam acara ini turut hadir juga perwakilan dari NLR Indonesia, ada mba Uswatun Khasanah - Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). Ia mengalami kusta pada usia 14tahun. Kusta sendiri merupakan penyakit yang menyerang pada syaraf kulit yang disebabkan oleh mikrobaterium neprhae. Ia juga melakukan pengobatan di Puskesmas secara gratis selama 1tahun.

Kusta juga mempunyai dua jenis karakteristik yang kusta basah dan juga kusta kering. Mba Uswah merupakan orang yang menderita kusta basah. Sehingga waktu pengobatan pun jauh lebih lama daripada kusta kering. Ciri yang didapat adalah adanya bercak putih kemerahan pada kulit dan juga mati rasa. Karena apa yang dialaminya ia mendapatkan banyak diskriminasi dan stigma dari lingkungan sekitar.

Menurut mba Uswah, "Stigma harus dihadapi dari dalam diri kita dahulu. Awalnya saya sempat kecewa, putus asa, dan sedih, karena stigma yang muncul dari dalam diri. Meski banyak stigma dari luar, saya berkeyakinan bahwa untuk menghilangkan hal itu kita harus sembuh dulu. Cara disiplin yang saya terapkan adalah dengan disiplin minum obat, hidup bersih, mendengarka saran dari dokter akan apa yang harus dilakukan. Juga menjaga pola hidup, pola makan dan pola pikiran itu sangat penting."

Lalu, diskusi dilanjutkan bersama dr. Oom Komariah, M.Kes yang merupakan Ketua Pelaksana Hari Down Syndrome Dunia (HDSD). Dan juga beliau merupakan salah satu pencetus POTADS (Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Sydrome).

Menururt beliau, stigma buruk dan diskriminasi masyarakat membuat orang tua dengan anak down syndrome cenderung menarik diri dari masyarakat. Penyampaian yang salah tentang kondisi disabilitas ini menjadikan anak dengan down syndrome jadi cenderung terkekang dan tidak dapat melakukan hal yang wajar dilakukan oleh anak lain.

POTADS ini didirikan oleh para orang tua dengan anak down syndrome. Komunitas ini dimaksudkan sebagai wadah bagi para orang tua untuk berbagi rasa, cerita, dan informasi seputar down sydrome.

Beberapa hal yang dilakukan komunitas ini dalam melawan diskrimanasi dan stigma di masyarakat adalah dengan sosialisasi. Penerapan sosialisasi yang benar di masyarakat tentu dapat berdampak besar bagi para orang tua maupun anak penyandang down sydrome. Tentu hal ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Tapi komunitas ini tetap saling mngeratkan satu sama lain dan berpegang bahwa mereka bisa.

Tak hanya melakukan kegiatan sosialisasi di masyarakat. Komunitas ini pun memiliki banyak program yang dapat menstimulasi anak down syndrome. Seperti berenang dan olahraga lain yang menstimulasi, acara musik, dan kesenian. Komunitas ini sering kali mengadakan pertunjukkan seni di mall ataupun beberapa tempat lain. Hal ini tentu guna mendukung sosialisasi dengan cara yang menarik dan menyenangkan.

Nah, pixies, sebagai seseorang yang berakal, kita gak boleh men-diskrimasi orang sembarangan. Ya, intinya maupun apapun kaumnya, siapapun mereka, darimana asalnya, dan bagaimanapun kondisinya, tindakan diskriminatif itu tidak dibenarkan.

Sekarang kita sudah paham kan ya. Cerita kali ini berakhir disini. See you again. BuhBye Pixies!

Petite Pixie

0 Comments

Please kindly share your thoughts down below. Sorry for the inconvenient, but active link will be remove.
XoXo Bella